Sejak awal, gagasan dasar berdirinya Komunitas
Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB)
telah disepakati untuk tidak diarahkan menjadi kekuatan politik, melainkan sebagai kekuatan pembangunan moralitas dan
kemanusiaan. KPSPB yang berdiri pada tanggal 3 Oktober 1999, atas gagasan
Willy Siswanto (pekerja sastra),
Nurhayat Arif Permana dan
Fahrurrozi (keduanya redaktur Harian Pagi BANGKA POS),
dihidupkan untuk mempertemukan semua penulis karya sastra yang berdomisili di
Pulau Bangka dalam suatu jalinan silaturrahmi yang
meningkatkan kualitas dan produktivitas pekerja sastra untuk ambil bagian dalam
membangun masyarakat madani ( yang mampu menciptakan dan merasakan secara bersama: kemanusiaan,
keadilan, demokrasi dan penghargaan serta pembelaan atas hak-hak asasi
manusia Indonesia ) KPSPB
adalah satu forum (baca: rumah) yang selalu
terbuka lebar pintunya,
bagi siapa saja
untuk ikut bergabung, berkarya bersama atau
sekedar
singgah, dilatarbelakangi oleh suatu niat untuk terus
berupaya
mensosialisasikan sastra bagi masyarakat Pulau Bangka
dan mengenalkan
keberadaan (eksistensi) karya sastra Pulau
Bangka keluar
daerah, untuk kepentingan edukasi sosial dan
pencerahan
nurani manusia. Sebagai sebuah komunitas, struktur Kepengurusan KPSPB dibuat
sesederhana mungkin dan hanya mengenal:
Selebihnya
adalah anggota, yang terdiri dari individu-individu pencinta dan pencipta karya sastra
(cerpen, puisi, gurindam, pantun, dan sebagainya) dan berasal dari beraneka ragam agama, etnik, mata pencaharian, latar belakang pendidikan, status sosial dan ekonomi, sikap politik
aktif, dan
tersebar di seluruh Pulau Bangka, terutama di
Belinyu,
Sungailiat, Pangkal Pinang, Kelapa, Koba, dan Toboali. Selain di Kota Pangkal Pinang, anggota terbanyak adalah berasal
dari Kota
"Kerupuk" Belinyu. Bahkan, KPSPB Belinyu telah
mengembangkan
sebuah teater
yang diberinama Teater KELEKAK. |
![]() |
![]()   |